Thursday, September 14, 2006

PRINSIP-PRINSIP EKONOMI ISLAM

PRINSIP-PRINSIP EKONOMI ISLAM

Achyar Eldine



A. Pendahuluan

Meskipun ada kesamaan timbulnya kegiatan ekonomi, yakni disebabkan oleh adanya kebutuhan dan keinginan manusia. Namun karena cara manusia dalam memenuhi alat pemuas kebutuhan dan cara mendistribusikan alat kebutuhan tersebut didasari filosofi yang berbeda, maka timbullah berbagai bentuk sistem dan praktik ekonomi dari banyak negara di dunia. Perbedaan ini tidak terlepas dari pengaruh filsafat, agama, ideologi, dan kepentingan politik yang mendasari suatu negara penganut sistem tersebut.

Ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia sebagai hubungan antara tujuan dan sarana langka yang memiliki kegunaan-kegunaan alternatif. Ilmu ekonomi adalah studi yang mempelajari cara-cara manusia mencapai kesejahteraan dan mendistribusikannya. Kesejahteraan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang memiliki nilai dan harga, mencakup barang-barang dan jasa yang diproduksi dan dijual oleh para pebisnis.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kemudian barang-barang dan jasa itu (kekayaan) itu dibagi-bagikan. Cara yang ditempuh oleh masyarakat untuk menjawab pertanyaan ini dengan menentukan sistem ekonomi yang diterapkan. Setidaknya dalam praktik ada lima sistem ekonomi yang dikenal masyarakat dunia, yakni

Kapitalisme, Sosialisme, Fasisme, Komunisme dan terakhir adalah Ekonomi Islam.



B. Kapitalisme

Faham Kapitalisme berasal dari Inggris abad 18, kemudian menyebar ke Eropa Barat dan Amerika Utara. Sebagai akibat dari perlawanan terhadap ajaran gereja, tumbuh aliran pemikiran liberalisme di negara-negara Eropa Barat. Aliran ini kemudian merambah ke segala bidang termasuk bidang ekonomi. Dasar filosofis pemikiran ekonomi Kapitalis bersumber dari tulisan Adam Smith dalam bukunya An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations yang ditulis pada tahun 1776. Isi buku tersebut sarat dengan pemikiran-pemikiran tingkah laku ekonomi masyarakat. Dari dasar filosofi tersebut kemudian menjadi sistem ekonomi, dan pada akhirnya kemudian mengakar menjadi ideologi yang mencerminkan suatu gaya hidup (way of life).

Smith berpendapat motif manusia melakukan kegiatan ekonomi adalah atas dasar dorongan kepentingan pribadi, yang bertindak sebagai tenaga pendorong yang membimbing manusia mengerjakan apa saja asal masyarakat sedia membayar "Bukan berkat kemurahan tukang daging, tukang pembuat bir, atau tukang pembuat roti kita dapat makan siang," kata Smith "akan tetapi karena mereka memperhatikan kepentingan pribadi mereka. Kita berbicara bukan kepada rasa perikemanusiaan mereka, melainkan kepada cinta mereka kepada diri mereka sendiri, dan janganlah sekali-kali berbicara tentang keperluan-keperluan kita, melainkan tentang keuntungan-keuntungan mereka." (Robert L. Heilbroner;1986, UI Press).1

Motif kepentingan individu yang didorong oleh filsafat liberalisme kemudian melahirkan sistem ekonomi pasar bebas, pada akhirnya melahirkan ekonomi Kapitalis.

Milton H. Spencer (1977), menulis dalam bukunya Contemporary Economics: "Kapitalisme merupakan sebuah sistem organisasi ekonomi yang dicirikan oleh hak milik privat (individu) atas alat-alat produksi dan distribusi (tanah, pabrik-pabrik, jalan-jalan kereta api, dan sebagainya) dan pemanfaatannya untuk mencapai laba dalam kondisi-kondisi yang sangat kompetitif."

Lembaga hak milik swasta merupakan elemen paling pokok dari kapitalisme. Pemberian hak pemilikan atas harta kekayaan memenuhi tiga macam fungsi ekonomi penting:

Para individu memperoleh perangsang agar aktiva mereka dimanfaatkan seproduktif mungkin.

Hal tersebut sangat mempengaruhi distribusi kekayaan serta pendapatan karena individu-individu diperkenankan untuk menghimpun aktiva dan memberikannya kepada para ahli waris secara mutlak apabila mereka meninggal dunia.

Ia memungkinkan laju pertukaran yang tinggi oleh karena orang memiliki hak pemilikan atas barang-barang sebelum hak tersebut dapat dialihkan kepada pihak lain.

Dengan demikian kapitalisme sangat erat hubungannya dengan pengejaran kepentingan individu. Bagi Smith bila setiap individu diperbolehkan mengejar kepentingannya sendiri tanpa adanya campur tangan pihak pemerintah, maka ia seakan-akan dibimbing oleh tangan yang tak nampak (the invisible hand), untuk mencapai yang terbaik pada masyarakat. Kebebasan ekonomi tersebut juga diilhami oleh pendapat Legendre yang ditanya oleh Menteri keuangan Perancis pada masa pemerintahan Louis XIV pada akhir abad ke 17, yakni Jean Bapiste Colbert. Bagaimana kiranya pemerintah dapat membantu dunia usaha, Legendre menjawab: "Laissez nous faire" (jangan mengganggu kita, [leave us alone]), kata ini dikenal kemudian sebagai laissez faire. Dewasa ini prinsip laissez faire diartikan sebagai tiadanya intervensi pemerintah sehingga timbullah:

individualisme ekonomi dan

kebebasan ekonomi

Dengan kata lain dalam sistem ekonomi kapitalis berlaku "Free Fight Liberalism" (sistem persaingan bebas). Siapa yang memiliki dan mampu menggunakan kekuatan modal (Capital) secara efektif dan efisien akan dapat memenangkan pertarungan dalam bisnis. Paham yang mengagungkan kekuatan modal sebagai syarat memenangkan pertarungan ekonomi disebut sebagai Capitalisme.



C. Sosialisme

Dalam kehidupan sehari-hari istilah sosialisme digunakan dalam banyak arti. Istilah sosialisme selain digunakan untuk menunjukkan sistem ekonomi, juga digunakan untuk menunjukkan aliran filsafat, ideologi, cita-cita, ajaran-ajaran atau gerakan. Sosialisme sebagai gerakan ekonomi muncul sebagai perlawanan terhadap ketidak adilan yang timbul dari sistem kapitalisme.

John Stuart Mill (1806-1873), menyebutkan sebutan sosialisme menunjukkan kegiatan untuk menolong orang-orang yang tidak beruntung dan tertindas dengan sedikit tergantung dari bantuan pemerintah.

Sosialisme juga diartikan sebagai bentuk perekonomian di mana pemerintah paling kurang bertindak sebagai pihak dipercayai oleh seluruh warga masyarakat, dan menasionalisasikan industri-industri besar dan strategis seperti pertambangan, jalan-jalan, dan jembatan, kereta api, serta cabang-cabang produk lain yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dalam bentuk yang paling lengkap sosialisme melibatkan pemilikan semua alat-alat produksi, termasuk di dalamnya tanah-tanah pertanian oleh negara, dan menghilangkan milik swasta (Brinton:1981).

Dalam masyarakat sosialis hal yang menonjol adalah kolektivisme atau rasa kerbersamaan. Untuk mewujudkan rasa kebersamaan ini, alakosi produksi dan cara pendistribusian semua sumber-sumber ekonomi diatur oleh negara.



D. Komunisme

Komunisme muncul sebagai aliran ekonomi, ibarat anak haram yang tidak disukai oleh kaum Kapitalis. Aliran ekstrim yang muncul dengan tujuan yang sama dengan sosialisme, sering lebih bersifat gerakan ideologis dan mencoba hendak mendobrak sistem kapitalisme dan sistem lain yang telah mapan.

Kampiun Komunis adalah Karl Marx, sosok yang amat membenci Kapitalisme ini merupakan korban dan saksi sejarah, betapa ia melihat para anak-anak dan wanita-wanita -termasuk keluarganya- yang di eksploitir para kapitalis sehingga sebagian besar dari mereka terserang penyakit TBC dan tewas, karena beratnya penderitaan yang mereka alami. Sementara hasil jerih payah mereka dinikmati oleh para pemilik sumber daya (modal) yang disebutnya kaum Bourjuis.

Di ilhami pendapat Hegel yang menyatakan bahwa perubahan historis merupakan hasil kekuatan-kekuatan yang bertentangan satu sama lain. Pertentangan tersebut pada dasarnya bersifat ekonomis atau materialistis, dengan demikian faktor-faktor ekonomi menurut Marx mejadi sebab pokok terjadinya perubahan.

Kata Komunisme secara historis sering digunakan untuk menggambarkan sistem-sistem sosial di mana barang-barang dimiliki secara bersama-sama dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota masyarakat. Produksi dan konsumsi bersama berdasarkan kapasitas ini merupakan hal pokok dalam mendefinisikan paham komunis, sesuai dengan motto mereka: from each according to his abilities to each according to his needs (dari setiap orang sesuai dengan kemampuan, untuk setiap orang sesuai dengan kebutuhan).3

Walaupun tujuan sosialisme dan komunisme sama, tetapi dalam mencapai tujuan tersebut sangat berbeda. Komunisme adalah bentuk paling ekstrem dari sosialisme. Bentuk sistem perekonomian yang didasarkan atas sistem, di mana segala sesuatunya serba dikomando. Begitu juga karena dalam sistem komunisme negara merupakan penguasa mutlak, perekonomian komunis sering juga disebut sebagai "sistem ekonomi totaliter", menunjuk pada suatu kondisi sosial di mana pemerintah main paksa dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya, meskipun dipercayakan pada asosiasi-asosiasi dalam sistem sosial kemasyarakatan yang ada. Sistem ekonomi totaliter dalam praktiknya berubah menjadi sistem otoriter, dimana sumber-sumber ekonomi dikuasai oleh segelintir elite yang disebut sebagai polit biro yang terdiri dari elite-elite penguasa partai Komunis.



E. Fasisme

Fasisme muncul dari filsafat radikal yang muncul dari revolusi industri yakni sindikalisme. Eksponen sindikalisme adalah George Sorel (1847-1922). Para penganjur sindikalisme menginginkan reorganisasi masyarakat menjadi:

asosiasi-asosiasi yang mencakup seluruh industri, atau

sindikat-sindikat pekerja

Mereka menganjurkan agar ada sindikat-sindikat pabrik baja yang dimiliki dan dioperasikan oleh para pekerja di dalam industri batu bara, dan begitu pula halnya pada industri-industri lain.

Dengan demikian sindikat-sindikat yang ada pada dasarnya merupakan serikat-serikat buruh akan menggantikan negara. Dalam sistem ekonomi fasisme, pemerintah melakukan pengendalian dalam bidang produksi, sedangkan kekayaan dimiliki oleh pihak swasta.

Dalam praktik Fasisme dan Komunisme adalah dua gejala dari penyakit yang sama. Keduanya sering dikelompokkan sebagai sistem totaliter. Keduanya sama dalam hal pemerintahan, yaitu kediktatoran satu partai.



F. Islam

Ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam. Sejauh mengenai masalah pokok kekurangan, hampir tidak terdapat perbedaan apapun antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi modern. Andaipun ada perbedaan itu terletak pada sifat dan volumenya (M. Abdul Mannan; 1993). Itulah sebabnya mengapa perbedaan pokok antara kedua sistem ilmu ekonomi dapat dikemukakan dengan memperhatikan penanganan masalah pilihan.

Dalam ilmu ekonomi modern masalah pilihan ini sangat tergantung pada macam-macam tingkah masing-masing individu. Mereka mungkin atau mungkin juga tidak memperhitungkan persyaratan-persyaratan masyarakat. Namun dalam ilmu ekonomi Islam, kita tidaklah berada dalam kedudukan untuk mendistribusikan sumber-sumber semau kita. Dalam hal ini ada pembatasan yang serius berdasarkan ketetapan kitab Suci Al-Qur’an dan Sunnah atas tenaga individu. Dalam Islam, kesejahteraan sosial dapat dimaksimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan sedemikian rupa, sehingga dengan pengaturan kembali keadaannya, tidak seorang pun lebih baik dengan menjadikan orang lain lebih buruk di dalam kerangka Al-Qur’an atau Sunnah.

Suka atau tidak, ilmu ekonomi Islam tidak dapat berdiri netral di antara tujuan yang berbeda-beda. Kegiatan membuat dan menjual minuman alkohol dapat merupakan aktivitas yang baik dalam sistem ekonomi modern. Namun hal ini tidak dimungkinkan dalam negara Islam.

Seluruh lingkaran aktivitas ekonomi dapat dijelaskan dengan bantuan dua grafik dibawah sebagai berikut:4



(A)

Ilmu Ekonomi Islam
(B)

Ilmu Ekonomi Modern



A. (1) Manusia (sosial namun religius)
B (1) Manusia (sosial)



A. (2) Kebutuhan- kebutuhan tidak terbatas
A. (3) Kekurangan sarana
B. (2) Kebutuhan- kebutuhan tidak terbatas
B. (3) Kekurangan sarana

(E) masalah-masalah ekonomi


(E) masalah-masalah ekonomi

A. (4) Pilihan di antara alternatif (dituntun oleh nilai Islam)


B. (4) Pilihan di antara alternatif (dituntun oleh kepentingan individu)

A. (5) Pertukaran terpadu dan transfer Satu arah (dituntun oleh etika Islami, kekuatan bukan pasar)
B. (5) Pertukaran dituntun oleh

kekuatan pasar





Jadi ringkasnya, dalam ilmu ekonomi Islam kita tidak hanya mempelajari individu sosial melainkan juga manusia dengan bakat religiusnya [A(1)]. Hal ini disebabkan karena banyaknya kebutuhan [A(2)/B(2)] dan kurangnya sarana (A3/B3), maka timbullah masalah ekonomi (E). Masalah ini pada dasarnya sama baik dalam ekonomi modern maupun ekonomi Islam. Namun perbedaan timbul berkenan dengan pilihan. Ilmu ekonomi Islam dikendalikan oleh nilai-nilai dasar Islam A (4) dan ilmu ekonomi modern sangat dikuasai oleh kepentingan diri si individu B (4). Yang membuat ilmu ekonomi Islam benar-benar berbeda ialah sistem pertukaran dan transfer satu arah yang terpadu mempengaruhi alokasi kekurangan sumber-sumber daya, dengan demikian menjadikan proses pertukaran langsung relevan dengan kesejahteraan menyeluruh (A/5) yang berbeda hanya dari kesejahteraan ekonomi (B/5).

Faktor-faktor Produksi dan Konsep Pemilikan

Produksi berarti diciptakannya manfaat, produksi tidak diartikan sebagai menciptakan secara fisik sesuatu yang tidak ada, karena tidak seorang pun dapat menciptakan benda. Yang dapat dilakukan oleh manusia hanyalah membuat barang-barang menjadi berguna, disebut sebagai "dihasilkan." Prinsip fundamental yang harus diperhatikan dalam proses produksi adalah prinsip kesejahteraan ekonomi. Tidak ada perbedaan sudut pandang apa yang menjadi faktor-faktor produksi dalam pandangan ekonomi umum dengan ekonomi Islam yakni, Tanah, Tenaga kerja, Modal dan Organisasi dipandang sama sebagai faktor-faktor produksi. Perbedaan keduanya adalah dari sudut pandang perlakuan faktor-faktor produksi tersebut.

Dalam pandangan Kapitalisme tanah merupakan hak milik mutlak, sementara dalam pandangan Sosialis dan Komunis tanah hanya dimiliki negara sementara Islam memandang Tanah sebagai milik mutlak Allah.5 Sehingga baik negara maupun masyarakat tidak dapat mengklaim sebidang tanah bila keduanya mengabaikan tanah tersebut melewati batas waktu 3 tahun.6 Pemanfaatan atas tanah dalam Islam bukan pada kemampuan seseorang untuk menguasainya tetapi atas dasar pemanfaatannya.7 Sehingga fungsi tanah dalam Islam adalah sebagai hak pengelolaan bukan pada penguasaan.

Masalah krusial hingga kini adalah berkaitan dengan tenaga kerja.

Dalam pandangan Marx, ketidak adilan yang dilakukan para Kapitalis terletak pada pemenuhan upah yang tidak wajar. Sebagai contoh, para pemilik modal menetapkan hari kerja 12 jam. padahal pekerja yang bersangkutan dapat memproduksi nilai yang sama dengan upah subsitensinya dalam 7 jam, maka sisa 5 jam merupakan nilai surplus yang secara harfiah dicuri oleh para Kapitalis. Islam sangat concern terhadap posisi tenaga kerja Nabi berkata "Bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya kering," ucapan Rasulullah tersebut mengisyaratkan betapa hak-hak pekerja harus mendapat jaminan yang cukup. Islam tidak memperkenankan pekerja bekerja pada bidang-bidang yang tidak diizinkan oleh syariat. Dalam Islam, buruh bukan hanya suatu jumlah usaha atau jasa abstrak yang ditawarkan untuk dijual pada para pencari tenaga kerja manusia. Mereka yang mempekerjakan buruh mempunyai tanggung jawab moral dan sosial. Dengan demikian sebuah lembaga Islam yang mempekerjakan buruh atau pekerja tidak diperkenankan membayar gaji mereka dengan tidak sewajarnya (ukuran wajar dapat diukur dengan standar hidup layak atau menurut ukuran pemerintah seperti UMP). Dan sangat besar dosanya bila sebuah lembaga Islam yang dengan sengaja tidak mau membayar upah buruhnya dengan standar kebutuhan, apalagi bila membujuknya dengan kata-kata bahwa, nilai pengorbanan si buruh tersebut merupakan pahala baginya. Padahal dibalik itu si pemilik modal (si pejabat) melakukan pemerasan berkedok agama. Baik si pekerja maupun majikan tidak boleh saling memeras. Tanggung jawab seorang buruh tidak berakhir ketika ia meninggalkan pabrik/usaha majikannya. Tetapi ia juga mempunyai tanggung jawab moral untuk melindungi kepentingan yang sah, baik kepentingan para majikan maupun para pekerja yang kurang beruntung.

Suatu sistem ekonomi Islam harus bebas dari bunga (riba), riba merupakan pemerasan kepada orang yang sesak hidupnya (terdesak oleh kebutuhan).8 Islam sangat mencela penggunaan modal yang mengandung riba.9 Dengan alasan inilah, modal telah menduduki tempat yang khusus dalam ilmu ekonomi Islam. Negara Islam mempunyai hak untuk turun tangan bila modal swasta digunakan untuk merugikan masyarakat. Tersedia hukuman yang berat bagi mereka yang menyalahgunakan kekayaan untuk merugikan masyarakat.[1]0

Lagi pula hanya sistem ekonomi Islam yang dapat menggunakan modal dengan benar dan baik, karena dalam sistem Kapitalis modern kita dapati bahwa manfaat kemajuan teknik yang dicapai oleh ilmu pengetahuan hanya bisa dinikmati oleh masyarakat yang relatif kaya, yang pendapatannya melebihi batas pendapatan untuk hidup sehari-hari. Mereka yang hidup sekedar cukup untuk makan sehari-hari terpaksa harus tetap menderita kemiskinan abadi, karena hanya dengan mengurangi konsumsi hari ini ia dapat menyediakan hasil yang kian bertambah bagi hari esok, dan kita tidak bisa berbuat demikian kecuali bila pendapatan kita sekarang ini bersisa sedikit di atas keperluan hidup sehari-hari.

Tetapi Islam melindungi kepentingan si miskin dengan memberikan tanggung jawab moral terhadap si kaya untuk memperhatikan si miskin. Islam mengakui sistem hak milik pribadi secara terbatas, setiap usaha apa saja yang mengarah ke penumpukan kekayaan yang tidak layak dalam tangan segelintir orang, dikutuk! Al-Qur’an menyatakan agar si kaya mengeluarkan sebagian dari rezekinya untuk kesejahteraan masyarakat1[1], karena kekayaan harus tersebar dengan baik.12 Dengan cara ini, Islam menyetujui dua pembentukan modal yang berlawanan yaitu konsumsi sekarang yang berkurang dan konsumsi mendatang yang bertambah. Dengan demikian memungkinkan modal memainkan peranan yang sesungguhnya dalam proses produksi. Karena itu tingkat keuntungan pada usaha ekonomi yang khusus antara lain dapat digunakan sebagai salah satu sarana penentuan modal.

Kelihatannya tiak ada ciri-ciri istimewa yang dapat dianggap sebagai organisasi dalam suatu kerangka Islam. Tetapi ciri-ciri khusus berikutnya dapat diperhatikan, untuk memahami peranan organisasi dalam ekonomi Islam. Pertama, dalam ekonomi Islam pada hakikatnya lebih berdasarkan ekuiti (equity-based) daripada berdasarkan pinjaman (loan-based), para manajer cenderung mengelola perusahaan yang bersangkutan dengan pandangan untuk membagi deviden di kalangan pemegang saham atau berbagi keuntungan diantara mitra sutau usaha ekonomi. Kekuatan – kekuatan koperatif melalui berbagai bentuk investasi berdasarkan persekutuan dalam bermacam-macam bentuk (mudaraba, musyarika, dll).

Kedua, pengertian keuntungan biasa mempunyai arti yang lebih luas dalam kerangka ekonomi Islam karena bunga pada modal tidak diperkenankan. Modal manusia yang diberikan manajer harus diitegerasikan dengan modal yang berbentuk uang. Pengusaha penanam modal dan usahawan menjadi bagian terpadu dalam organisasi dimana keuntungan biasa menjadi urusan bersama.

Ketiga, karena sifat terpadu organisasi inilah tuntutan akan integritas moral, ketetapan dan kejujuran dalam perakunan (accounting) barangkali jauh lebih diperlukan daripada dalam organisasi sekular mana saja, dimana para pemilik modalnya mungkin bukan meruapakn bagian ari manajemen. Islam menekankan kejujuran, ketepatan dan kesungguhan dalam urusan perdagangan, karena hal itu mengurangi biaya penyediaan (supervisi) dan pengawasan. Faktor manusia dalam produksi dan strategi usaha barangkali mempunyai signifikansi lebih diakui dibandingkan dengan strategi manajemen lainnya yang didasarkan pada memaksimalkan keuntungan atau penjualan.

Dapat disimpulkan bahwa sistem produktif dalam negara Islam harus dikendalikan dengan kriteria objektif maupun subjektif. Kriteria objektif diukur dengan kesejahteraan material, seangkan kriteria subjektif harus tercermin dalam kesejahteraan yang harus dinilai dari segi etika ekonomi Islam.

Dalam Islam, faktor produksi tidak hanya tunduk pada proses perubahan sejarah yang didesak oleh banyak ke-kuatan berlatar belakang penguangan / monetization

tenaga kerja, tanah dan modal, timbulnya negara nasional dari kerajaan feodal dan sebagainya, tetapi juga pada kerangka moral dan etika abadi sebagaimanatertulis dalam syariat. Tanah tidak dianggap sebagai hak kuno istimew dari negara dan kekuasaan, tetapi dianggap sebagai sarana untuk meningkatkan produksi yang digunakan demi kesejahteraan individu dan masyarakat.

Konsep hak milik pribadi dalam Islam bersifat unik, dalam arti bahwa pemilik mutlak segala sesuatu yang ada di bumi dan langit adalah Allah14 manusia hanyalah kalifah di muka bumi. Pada umumnya terdapat ketentuan syariat yang mengatur hak milik pribadi.

Beberapa aspek pembiayaan dalam Islam cukup bervariasi, jika dalam ekonomi modern pemerintah memperoleh pendapatan dari sumber pajak, bea cukai dan pungutan, maka Islam lebih memperkayanya dengan zakat, jizyah, kharaj (paja bumi), pampasan perang.

Meskipun nilai nominal zakat lebih kecil dari pajak dalam ekonomi modern tetapi pemberlakukan distribusinya lebih efektif. Sebagai contoh pada masa depresi di Amerika tahun 1929 (jatuhnya bursa saham di New York), ahli makro ekonomi Keynes, menyarankan agar masyarakat Amerika yang berduit melakukan komsumsi tinggi - salah satu penyebab terjadinya depresi ekonomi adalah akibat terkonsentrasinya modal pada segelintir orang – diharapkan dengan konsumsi tinggi akan mengalir dana dan menjadi efek rembes ke kemasyarakat. Akan tetapi efek rembes dana dari orang kaya biasanya mengalir lambat pada orang miskin,

Keunggulan pembangunan Islam yang mengacu pada meningkatnya output dari setiap jam kerja yang dilakukan, bila dibandingkan dengan konsep modern, disebabkan karena keinginan pembangunan ekonomi dalam Islam tidak hanya timbul dari masalah ekonomi abadi manusia, tetapi juga dari anjuran Ilahi dalam Qur’an dan Sunnah. Pertumbuhan output per kapita, di satu pihak tergantung pada sumber daya alam dan di lain pihak pada perilaku manusia. Tetapi sumber daya alam saja bukan merupakan kondisi yang cukup untuk pembangunan ekonomi, juga bukan sesuatu yang mutlak diperlukan. Perilaku manusia memainkan peranan yang sangat penting dalam pembangunan ekonomi. Namun pembentukan perilaku manusia di negara terbelakang adalah suatu proses yang menyakitkan karena memerlukan penyesuaian dengan lembaga-lembaga sosial, ekonomi, hukum, politik. Berbeda dari agama lainnya, Islam mengakui kebutuhan metafisik maupun material dari kehidupan. Karena itu masalah penempatan perilaku manusia di suatu negara Islam tidaklah sesulit di negara-negara sekular.



Catatan

1 Robert L. Heilbroner, 1986, Tokoh-Tokoh Besar Pemikir Ekonomi.

2 Winardi, 1986, Kapitalisme Versus

Sosialisme.

3 Deliarnov, 1995, Perkembangan Pemikiran

Ekonomi.

4 Muhammad Abdul Mannan, 1993, Teori dan

Praktek Ekonomi Islam.

5 QS:Al-A’raf [7];128.

6 Barang Siapa yang memiliki sebidang tanah,

hanya dapat memagarinya, selewat tiga tahun

maka ia tidak berhak atas tanah tersebut.

(Hadits).

7 Barang siapa yang menghidupkan tanah mati,

maka ia paling berhak atasnya (Hadits)

8 Fuad Mohd Fachruddin, 1983, Riba Dalam

Bank, Koperasi, Perseoran & Asuransi.

9 Dalam banyak Hadits riba disetarakan

dengan dosa perzinaan, bahkan menzinai

ibunya sendiri.

[1]0 QS:Al Haqqah [69];30-32

1[1] QS: Al Fatir [35];29 lihat QS: Al Baqarah

[2];3

12 QS: Al- Hasyr [59];7

13 QS: Ali Imran [3];189



Daftar Pustaka:

Al-Qur’an Terjemahan Departemen Agama RI

Fuad Mohd Fachruddin, 1983, Riba Dalam Bank, Koperasi, Perseoran & Asuransi, Alma’arif, Bandung.

Muhammad Abdul Mannan, 1993, Teori dan Praktek Ekonomi Islam, PT. Dana Bhakti Wakaf .

Robert L. Heilbroner, 1986, Tokoh-Tokoh Besar Pemikir Ekonomi, UI Press.

Winardi, 1986, Kapitalisme Versus Sosialisme, Remadja Karya, Bandung.

Deliarnov, 1995, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Raja Garfindo Persada.

Sunday, September 10, 2006

Tamu Aneh

Pada satu hari dirumah bapak kedatangan tamu, saya tak begitu mengenalnya. Tamu itu duduk terdiam, sesekali senyum melihat kedatangan saya. Dia hanya duduk diam tanpa berkata-kata. Tak lebih dari satu jam tamu itu pamit.

Melihat kelakuan tamu yang aneh itu, saya-pun bertanya pada bapak. “siapa pak tamu itu?” “tidak tau” “maksudnya kemari mau ngapain pak?” “tidak tau.” Emangnya bilang apa?” Tidak ngomong apa-apa.”

Saya dibuat bingung oleh jawaban bapak. “Tamu kok aneh ya?” Kata saya. “Sebenarnya tamu itu tidak aneh, dia mengajarkan kepada kita bagaimana cara berdiam diri yang baik.” Jawab bapak.

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Tuesday, September 05, 2006

Psikopolitik Zikir

Dari segi bahasa, zikir mempunyai dua arti; menyebut dan mengingat. Ada orang yang mulutnya menyebut nama Tuhan tetapi hatinya justeru tidak mengingat Nya,malah mengingat syaitan dan maksiat, sebaliknya ada orang yang selalu ingat Tuhan meski tak terdengan sebutan nama Tuhan dari mulutnya.

Pada tradisi tarekat tasauf dikenal ada zikir jahr dan ada zikir sirr. Zikir Jahr adalah menyebut nama Tuhan atau kalimah thayyibah (takbir, tahmid, tasbih dan salawat Nabi) dengan mengeraskan suara. Biasanya zikir jahr dilakukan bersama=sama, di masjid atau di tempat khusus (zawiyah) dipimpin seorang mursyid. Sekarang acara zikir jahr marak dilakukan oleh masyarakat, dipimpin antara lain oleh Arifin Ilham, Ustad haryono dan lain-lainnya. Ada lagi yang disebut istighotsah, artinya mohon pertolongan, isinya membaca doa mohon sesuatu secara ramai-ramai (demontrasi doa) di tempat terbuka. Jika pada acara tahlilan, zikir lebih merupakan tradisi, pada kelompok tarekat, zikir merupakan suluk atau metode mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi pengamal tarekat, membaca zikir dalam majlis zikir merupakan hiburan dan kenikmatan spirituil, baik ketika sedang membaca maupun sepulang dari berzikir. Pembacaan zikir yang dilakukan secara reguler yang disiplin dan tertib (disebut wirid) akan mengembangkan “rasa” tertentu yang dapat disebut sebagai religiusitas. Ekpressi ahli zikir itu pada umumnya tenang dalam menghadapi berbagai persoalan, wajahnya berseri-seri meski kepada musuh sekalipun dan fleksibel dalam mencari problem solving. Zikirnya penganut tarekat pada umumnya lebih afektip disbanding kognitip, oleh karena itu mereka pada umumnya enggan menerangkan bagaimana anatomi kenikmatan zikir, bahkan ketika zikir dikatakan sebagai bid`ah atau sesat. Mereka cukup mengatakan cobalah ikut, nanti anda akan dapat merasakan sendiri.

Adapun zikir sirr adlah zikir yang tidak diucapkan dengan mulut tetapi lebih di dalam hati. Bagi yang sudah mencapai tingkat ini, setiap kali melihat fenomena alam yang terbayang adalah sang pencipta(Tuhan) bukan bendanya, seperti orang yang melihat lukisan indah, ia tidak terpaku pada lukisannya tetapi terkagum-kagum kepada sang pelukis, dan yang dibayangkan adalah jiwa besar kesenimanan sang pelukis. Jika pengamal zikir jahr mudah dikenali orang karena agenda kegiatannya, juga penampilannya, orang yang sudah mencapai zikir sirr pada umumnya tidak mudah dikenali, karena memang tidak pernah menunjukkan jati dirinya. Secara lahir ia seperti orang biasa lainnya, tetapi dibalik kebiasaan penampilan sesungguhnya ada kekuatan religiusitas yang sangat dalam atau tinggi. Di tengah keramaian hiruk pikuk manusia, ia selalu berduaan dengan Sang Pencipta, di tengah kesepian alam dia justeru merasa ramai karena bercanda dengan Tuhannya, ia selalu tersenyum dalam kesendirian, selalu ramai dalam kesepian.

Zikir Perspektip Politik

Sesungguhnya logika zikir jahr sama dengan logika politik, yaitu berlindung kepada pihak yang kuat, karena takut hambatan. Sebagai contoh, jika pada musim kampanye dimana di jalan raya dipenuhi oleh massa kontestan PDIP sementara anda akan melewati jalan itu dengan mobil anda, maka anda harus berzikir dengan terus menerus berteriak; Hidup PDIP, Hidup Megawati, ditambah lagi mobil anda ditempeli gambar bu Mega dan lambing banteng, insya Alloh anda dapat melewati kerumunan massa itu dengan selamat. Dalam perjalanan selanjutnya anda ketemu massa kampanye PKB, maka anda harus ganti teks zikirnya, Hidup Gus Dur, Hidup Muhaimin, hidup PKB, dan tambahilah baca selawat Badar, Insya Alloh anda juga dapat lewat dengan aman. Selanjutnya anda ketemu massa kampanye Partai Demokrat, ganti zikirnya ; hidup Demokrat, hidup SBY,….lancar daah perjalanan anda. Sekali-kali jangan salah sebut dan jangan salah nempel gambar, bisa runyam.

Nah, dalam perjalanan hidup dari kecil hingga mati, dipelosok manapun kita berada, penguasa yang sesungguhnya adalah Alloh swt. Jika anda selalu menyebut Penguasa Yang sebenarnya (Alloh swt) insya Allah anda dalam perlindungan Nya.

Bagi penganut zikir, jika ia harus pergi padahal ia harus melewati tempat yang penuh dengan bahaya –binatang buas misalnya- maka ia tetap pergi dengan berlindung membawa nama besar sang Penguasa, dengan percaya diri ia berjalan sambil membaca zikir Bismillahi la yadlurru ma`a ismihi syaiun fi al ardli wala fi as sama`i wahuwassami`u al `alim. Artinya ; Dengan nama Alloh dimana dengan menyebut nama Nya, maka tidak ada sesuatupun di muka bumi maupun di langit yang dapat membahayakan, dan Dia Maha Mendengar lagi maha mengetahui. Binatang buas yang dijumpai akan menyingkir dengan sendirinya karena ia dilengkapi dengan rekomendasi sang Pencipta.

Takbir Anarkis

Kalimat takbir Allohu Akbar (Alloh Maha Besar) adalah kalimat sacral, biasanya diucapkna ketika secara psikologi orang sangat senang karena merasa ditolong Tuhan, atau dalam keadaan takut dimana tidak ada yang dapat dimintai tolong kecuali Tuhan. Orang yang teraniaya begitu lama, tiba-tiba dimenangkan oleh pengadilan, maka ia langsung takbir dan bahkan sujud. Begitupun orang yang berada didepan regu tembak seperti Amrozi nanti, dia tidak lagi bisa berkata apa-apa selain takbir.

Banyak orang ketika demontrasi untuk urusan yang tidak jelas, pilkada, atau protes BBM atau protes APP, ketika berhadapan dengan polisi sedikit-sedikit takbir. Nah takbir seperti itu sebenarnya takbir anarkis, karena menempatkan takbir pada hal yang hanya bernilai syahwat politik. Wallohu a`lam bissawab.

Wassalam,
Prof. Dr. Achmad Mubarok MA
http://mubarok-institute.blogspot.com

Monday, September 04, 2006

Kecelakaan Itu Membuatnya Tersadar

Setiap orang pernah mengalami kecelakaan, entah kecelakaan kecil seperti jari yang ke iris pisau atau kecelakaan yang bisa berakibat fatal. Seringkali kecelakaan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dan membuat cara pandang hidup seseorang berubah, cara perilaku, cara bertutur bahkan cara menyikapi hidup-pun juga berubah.

Ada seorang teman, seorang pengajar yang sangat cerdas dan rasional. Mampu mematahkan setiap argumentasi lawan diskusinya ketika berdebat. Pernah salahsatu mahasiswanya kesal sampai mengejar-ngejarnya ditengah diskusi yang belum selesai. Setiap apapun yang berbau metafisik ditolaknya. Dan banyak mahasiswa yang terkagum-kagum padanya.

Pada suatu hari selesai mengajar, entah datangnya darimana ada motor melaju dengan kencang dan menabraknya. Selama 40 hari dirinya tidak sadarkan diri. Dalam kondisi koma. Ditengah kondisi koma itulah, kawan saya bertutur bahwa dia melihat dua malaikat sedang berbincang. “bagaimana yakin itu malaikat?” tanya saya. Katanya dia mendengarkan percakapan dua orang itu. Satunya mengatakan bahwa dirinya sudah saatnya meninggal dunia. Kata yang kedua, jangan sekarang..beri dia kesempatan untuk bertobat.

Saya tak percaya dia menceritakan semuanya itu dengan serius. Saya sempat berfikir bahwa dia bercanda. “Tidak, saya tidak bercanda”. Sanggahnya. “Setelah itu saya baru bangun tersadar dan saya mendengarkan dua malaikat berbincang rasanya sebentar itu selama 40 hari.” Begitulah katanya

Sejak kecelakaan itu saya melihat banyak hal yang dalam dirinya telah berubah. Saya sempat merenung sejenak peristiwa itu dan bertanya, apakah setiap kesadaran hadir mesti melalui kecelakaan terlebih dahulu ya?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Di Matanya Tidak Ada Orang Jahat

Pada satu kesempatan saya diajak teman mendengar pengajian disalahsatu mushola diperkantoran. Sang penceramah menceritakan tentang kemuliaan hati orang-orang yang sholeh dan dirinya hampir setiap hari berjumpa dengan orang-orang seperti itu. Ceramahnya cukup penyejukkan dikala siang panas menyengat . Di sesi berikutnya pengajian dilanjutkan sesi tanya jawab.

Ada anak muda yang penuh semangat bahwa kondisi negara sekarang ini sedang gawat, harga melambung tinggi, banyaknya pengangguran. Hal itu disebabkan oleh pemimpin yang korup.

Sang penceramah itu mengatakan, memang ada pemimpin yang korup tapi masih banyak pemimpin yang amanah, buktinya anda yang sampai sekarang masih bisa bekerja dengan baik, kita masih bisa mengadakan pengajian hari ini, itu semua hasil dari pemimpin yang amanah.

Teman yang duduk sebelah menyikut tangan saya sambil mengatakan, “hebat juga ustadz ini, dimatanya tidak ada orang yang jahat dimuka bumi ya..”

“Sebaiknya kita memang harus begitu kan?” jawab saya.

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Bersedekahlah Tiap Hari

Dirumah saya tinggal biasanya tiap ba’da maghrib selalu digunakan untuk mengaji anak-anak. Pengajian ditempat kami disebutnya pengajian Mutiara Salafiyah. Maksudnya sih, pengajian mutiara tradisi. Selain anak-anak ngaji biasanya suka ada yang bertandang sekedar untuk berdiskusi agama atau ngobrol ringan seputar kehidupan sehari-hari. Berbincang banyak hal rupanya keasyikan tersendiri bagi bapak saya, apa lagi jika berbincangnya soal agama, bisa sampai larut malam.

Pernah pada suatu hari bapak kedatangan tamu pindahan dari kampung sebelah. Seorang karyawan perusahaan. Dia mengeluh karena dirinya dililit hutang. Dan dia bertanya bagaimana agar dirinya terlepas lilitan hutang. Bapak menjawabnya, “supaya adek terlepas dari lilitan hutang, pada setiap hari jumat bersedekahlah pada orang yang kekurangan.” Tak terasa waktu sudah larut malam. Tamunya berpamitan.

Tak sampai satu bulan tamu tersebut kembali lagi, bersama istrinya dia mengucapkan banyak terima kasih pada bapak. Dia mengatakan bahwa dirinya bukan hanya terbebas dari lilitan hutang tapi juga bisa beli rumah. “Oh ya.” Kata bapak terperangah. “Kalau begitu mulai hari ini anda harus bersedekah tiap hari supaya tidak terlilit hutang lagi.” Kata bapak selanjutnya dan kali ini tamunya yang terperangah mendengarnya.

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Berhentilah Berfikir

Setiap kali ada kawan yang datang pada saya dengan segudang cerita masalahnya berharap masalahnya selesai dengan mndengarkan nasehat atau petuah saya. Padahal saya sendiri jika ada masaalah belum tentu saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri. Lantas kenapa saya mesti memberi nasehat pada orang lain. Begitulah pertanyaan kritis saya terhadap diri sendiri.

Pada satu kesempatan saya pusing dengan masalah saya yang tak kunjung selesai bertanya pada bapak. Bapak saya menyarankan, “Berhentilah berfikir.” Saya terhenyak mendengar jawabannya. Wah gawat nih saya kalo disuruh berhenti berfikir. Kata saya dalam hati.

Sejak itu saya berusaha mencari makna, apa maksudnya berhenti berfikir. Sampai kemudian datang kawan yang biasa datang dengan segudang masalah itu. Selesai bercerita dia bertanya apa solusinya. Saya katakan, “apa menurutmu makna berhentilah berfikir?” Seminggu kemudian kawan itu datang lagi, dia tidak bercerita. Hanya mengatakan, hari ini saya sudah berhenti berfikir loh.”

Apa ya maksudnya berhentilah berfikir?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Awal Pencerahan

Pencerahan berfikir pada setiap orang tentunya berbeda. Ada yang sehabis membaca buku, ada yang dengan diskusi atau ada sehabis pulang ikut kursus. Demikian halnya dengan saya, pencerahan bisa saya dapatkan dimana-mana, membaca buku, ngobrol dengan istri bahkan bertemu dengan pengemis dijalanan sekalipun. Tapi awal sekali pencerahan dalam hidup saya terjadi justru satu peristiwa dengan bapak.

Saya ingat waktu itu hari raya idul adha, sehabis pulang sekolah saya menceritakannya pada bapak bahwa di depan Kodim (Komandan Distrik Militer) Tulung Agung sedang dibagikan daging korban. Saya bertanya pada bapak, apakah boleh saya ikut mengantri untuk mendapatkan daging korban itu. Bapak saya mengatakan, “kita boleh miskin tapi jiwa kita kaya.” Setelah itu bapak mengajak saya pergi ke pasar membeli daging kambing. Hari itu kami sekeluarga sedang berpesta dengan menyantap daging kambing yang baru kami beli. Itulah awal pencerahan dalam hidup saya. Bagaimana awal pencerahan hidup anda?

Wassalam,
Agussyafii
http://agussyafii.blogspot.com

Wednesday, March 22, 2006

Ekonomi Syariah

Dalam sejarah, lahirnya ekonomi Islam pada masa-masa sekarang ini lebih disebabkan oleh dua faktor. Pertama, faktor ajaran agama yang melarang riba dan menganjurkan sodaqoh. Kedua, timbulnya surplus dollar dari negara-negara penghasil dan pengekspor minyak dari Timur Tengah dan negara Islam di mana mereka pada akhirnya membutuhkan institusi keuangan Islam untuk menyimpan dana mereka. Di Indonesia ekonomi syariah mulai dikenal sejak berdirinya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1991. Selanjutnya ekonomi berbasis syariah di Indonesia imi mulai menunjukan perkembangan yang menggembirakan. Pada dasarnya, sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah menjadi kewajiban bagi Umat Islam Indonesia untuk menerapkan ekonomi syariah sebagai bukti ketaatan dan ketundukan masyarakatnya pada Allah SWT dan Rasulnya.